Unik

Rabu, 15 Juni 2011


Cerbung (bagian I)
KAMPUNGKU DULU
                                                  Oleh:Kasra Scorpi
               Dulu kampungku disebut kenagarian Baringin, di zaman Orde Baru dirubah menjadi desa Baringin, sekarang kembali menjadi kenagarian Baringin.
                Mengenai nama kampungku ada yang yang mengganjal di kepalaku. Mengapa di Kantor wali nagari ditulis beringin bukan baringin seperti yang disebut. Memang perubahannya sedikit, hanya huruf “e” dan “a”, tapi itukan kesalahan juga. Bagi kampungku sebenarnya tak begitu masalah, tidak akan merubah arti, sebab beringin sama saja dengan baringin. Tetapi bagi kampung Sariak di sebelah kampungku, perubahan kata sariak menjadi sarik sangat berpengaruh, karena sariak artinya bambu sedangkan sarik menurut bahasa orang setempat sama dengan sulit. Jadi kalau kampung itu dinamakan sarik artinya sama  dengan kampung sulit, kan begitu?
                “Ah, waang jangan terlalu kritislah” jawab Pak Etekku ketika hal itu ku tanyakan kepadanya. “Biarkan sajalah, bukan nama kampung kita saja yang dirubah orang, Koto Kaciakpun sudah dirubah jadi Koto Kecil, Parak Karambia dirubah jadi Parak Kerambil biasa itu”Sambung Pak Etekku.
                “Tapi kita kan mesti kritis Pak Etek” balasku.
                “Sekarang ndak zamannya lagi kritis-kritisan, hal-hal sepele begitu biarkan sajalah” jawab beliau lagi. 
                Memang Pak Etekku begitu, beliau tidak suka kepada masalah, beliau menanggapi sesuatu sering dengan gurau dan humor.
                Ketika dulu kampungku  diperintah  wali nagari dan 3 orang wali jorong, salah seorang wali jorong itu Mak Uanku.
                Oleh orang kampung wali nagari dipanggil dengan inyiak wali saja. Kata orang inyiak wali itu orang kaya, sekaligus orang alim, pintar dan berani, cukup superlah.
                Kata Pak Etekku, seorang wali nagari memang harus begitu, harus punya kelebihan dari orang yang dipimpin, kalau tidak punya kelebihan dia tidak akan berwibawa dan sulit akan diikuti oleh orang yang dipimpinnya. Kata-katanya sulit diiyakan orang, walaupun diiyakan paling-paling di depannya tetapi dibelakangnya akan diabaikan.
                Kata Pak Etekku lagi, karena kelebihan yang dimiliki inyiak wali itulah makanya semua orang kampung patuh terhadap perintahnya. Kalau diperintahkan bergotong royong semua orang mengikutinya. Kalau anak buah inyiak wali meminta pajak jarang yang tidak membayar. Kepatuhan masyarakat juga karena inyiak wali memerintah secara bijaksana, tidak melakukan perintah yang merugikan orang banyak, tidak suka berbohong, tidak bersikap lain dimulut lain di hati, apa yang dikatakan itulah yang dikerjakannya.
                Inyiak wali sangat peduli dengan kepentingan rakyat, jika ada bandar dan jalan yang rusak beliau cepat menggerakkan rakyat untuk memperbaikinya (bersambung)

2 komentar: