Unik

Rabu, 15 Juni 2011

Danau Maninjau Mempesona Tapi Merisaukan

DANAU MANINJAU YANG  SEMAKIN RISAU
Oleh: Kasra Scorpi

Danau Maninjau terletak di  kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam dengan jarak sekitar 140 kilometer dari  Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittingi dan  27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.
            Danau itu berada pada ketinggian 461,50 meter dari permukaan laut, luas 99,5 km, kedalaman maksimum 495 meter. Saat ini merupakan danau terluas ke sebelas di Indonesia.
            Danau yang bagaikan sebuah belanga besar dikelilingi oleh tebing curam.  Menurut legenda Bujang Sembilan yang dipercayai masyarakat sekitarnya danau itu berasal dari bekas letusan  gunung Sitinjau beribu-ribu tahun lalu.
            Danau Maninjau merupakan sumber air bagi Batang Sri Antokan yang mengalir melewati kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Mutiara yang kemudian bermuara ke Samudra Indonesia.
              Air Batang Sri Antokan selain digunakan untuk keperluan pertanian dan perikanan sejak tahun 1980 digunakan oleh PLN sebagai pembangkit tenaga  listrik di daerah Muko-Muko.
            Karena keindahan alamnya yang menakjubkan  danau Maninjau dengan sendirinya menjadi  objek wisata utama di kabupaten Agam dan cukup dikenal di luar negeri. Sekitar tahun 1980-an danau Maninjau ramai dikunjungi oleh wisatawan manca negara.
            Sebagai objek wisata di danau itu tersedia fasilitas untuk berenang, memancing, sepeda air, juga ada hotel, penginapan sederhana atau home stay dan area tempat peristirahatan. Di kitaran danau terdapat panorama alam dengan pemandangan mempesona  seperti Puncak Lawang, Bukit Sakura, Ambun Tanai, Ambun Pagi dan beberapa titik di kelok44.
            Masih di pinggiran danau, tepatnya di Tanah Sirah nagari  Sungai Batang didirikan Museum Buya Hamka            yang dilengkapi dengan pustaka dan benda-benda peninggalan sastrawan dan ulama besar tersebut. Museum Buya Hamka termasuk objek wisata sejarah menarik di Maninjau.
            Sebagai peninggalan budaya, di Maninjau terdapat sejumlah mesjid tua dengan arsitek unik dan kesenian tambua tansa  bernuansa magis.
            Tetapi sejak 2 dasawarsa terakhir dunia pariwisata Maninjau melorot cukup tajam. Danau Maninjau seolah beralih dari daerah wisata ke  tempat usaha budi daya ikan keramba, dan usaha itu terus mengalami perkembangan, sehingga jumlah keramba yang ada sekarang mencapai belasan ribu unit. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah nila dan majalaya.
            Sementara ikan asli dan khas danau Maninjau adalah rinuak, barau, kailan panjang dan pensi. Ikan khas tersebut menjadi jualan masyarakat kepada wisatawan yang berkunjung, namun populasinya kian menciut akibat air danau yang kurang kondusif.
             Terkait dengan kondisi air danau yang tidak lagi kondusif,  bencana pengotoran  air danau  yang menimpa petani ikan semakin  sering terjadi. Tahun 2010 silam tidak kurang 3 kali bencana besar yang menewaskan ratusan ribu ton ikan keramba. Dalam pekan ini bencana itu datang lagi membuat petani ikan di 7 nagari  merugi milliaran rupiah.
            Seringnya  muncul bencana itu menurut hasil penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga ilmiah termasuk LIPPI antara lain  disebabkan oleh jumlah keramba yang melebihi kemampuan daya tampung danau. Berdasarkan hasil penelitian idealnya jumlah keramba  seribuan unit, itupun harus ditempatkan pada zona tertentu.
            Cuma untuk melaksanakan rekomendasi lembaga ilmiah tersebut, pemerintah daerah kewalahan karena masyarakat enggan mengurangi keramba mereka, dengan alasan   usaha keramba lebih menguntungkan dibandingkan usaha lain, sehingga Perbub  Agam
tentang pengaturan dan zonasi keramba yang  dikeluarkan bupati Aristo Munandar  tidak menpan.
            Sementara menurut bupati Agam sekarang Indra Catri, kondisi lingkungan danau Maninjau memang telah parah, semakin merisaukan, harus segera  dilakukan rehabilitasi dan pelestarian.
Kata Catri idealnya pemanfaatan danau Maninjau untuk usaha ikan keramba hanya  20%, dan 80% untuk usaha lain terutama pariwisata. Sementara kenyataan sekarang malah usaha keramba yang 80%.
Untuk  itu  secara perlahan perlu dilakukan upaya  membalikkan kondisi dengan merubah “mind set” dan  mengajak masyarakat  beralih dari usaha ikan keramba ke usaha pariwisata.
Tetapi itupun tidak mudah, pemerintah harus bekerja keras membangun infra struktur pariwisata dan faktor penunjang lainnya untuk  memperbesar arus pengunjung  sehingga masyarakat merasakan  bahwa pariwisata lebih menguntungkan daripada usaha ikan keramba***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar