Oleh:Kasra Scorpi
Menjelang mata mengantuk pemuda-pemuda itu mengajari kami berpetatah petitih, berpantun dan pasambahan, suatu waktu-waktu juga diajari bela diri silat serta berbagai ilmu perdukunan.
Pada bulan maulud orang mengadakan pengajian di surau kincir, ramai sekali. Ibu-ibu membawa jamba yang didalamnya berisi nasi dengan sambal ayam beserta lemang dan goreng pisang.
Guru yang biasa memberikan pengajian adalah Inyiak Sutad, seorang ulama kenamaan. Beliau tamatan sebuah sekolah agama yang ada di kampung dekat kampungku. Belia sekolah disitu sampai tamat, sampai kelas tujuh. Ilmu agamanya sangat dalam.
Dalam memberikan pengajian tampilannya sangat menarik. Ia hafal dengan tarikh Islam dari a sampai z. Dengan lincah, menggunakan bahasa kampungku yang diselingi bahasa arab, ia memaparkan kondisi Makkah di zaman jahiliyah, penyembahan masyarakat Makkah terhadap berhala, penyerangan kabah oleh tentara gajah, burung-burung hababil, sampai saat kelahiran nabi. Dari mulutnya meluncur ayat-ayat Quran dan hadis nabi seperti air menmgalir. Hadirin terpesona dan berdecak kagum mendengar pengajiannya.
Setelah mendengar pengajian Inyiak Sutad acara maulud nabi ditutup dengan makan dan doa bersama.
Bagi orang kampugnku Inyiak Sutad merupakan seorang ulama yang sangat dikagumi. Salah seorang pengagumnya adalah Inyiakku.
Dalam suatu percakapan menjelang tidur Inyiakku mengatakan, “Waang nanti menyambung ke sekolah agama ya, boleh seperti Inyiak Sutad”.
“ Kalau menyambung ke SMP bagaimana Nyiak” jawabku menyanggah.
“Tidak apa, tetapi lebih bagus ke sekolah agama” kata Inyiakku.
“ Bagusnya?”
“ Coba waang lihat Sutad mengaji, Ia hafal Quran dan Hadis, ia dipanggil orang kemana-mana, Ia tak pernah dibenci orang. Kalau nanti masuk sekolah agama dan rajin belajar bisa pula seperti sutad itu, kan bagus”.
“ Lain itu apa bagusnya” tanyaku lagi.
“ Kalau jadi malin, ketika mendoa kita duduk di ujung, orang akan menghidangkan sambal yang enak kepada kita” Inyiakku coba berseloroh.
Masuk sekolah agama? Aku hafal betui dengan tampang anak sekolah agama yang ada di kampung dekat kampungku. Mereka pakai peci, baju taluak balango, kain sarung dan terompa, menyandang buntil di punggung. Oleh orang kampungku anak sekolah itu dipanggil dengan pakiah.
Hampir setiap hari, anak sekolah agama itu mendatangi rumah-rumah penduduk. Di halaman mereka mengucapkan assalamualaikum sembari membuka buntilnya untuk meminta bantuan beras, Kalau orang rumah memiliki banyak persediaan beras ia akan memberi pakiah barang setekong, tetapi jika tidak punya orang rumah hanya mengucapkan “maaf dulu kiah”. Pakiah itu menuju rumah sebelah.
Kalau nasib lagi mujur, aku lihat pakiah keberatan menyandang buntilnya, tetapi jika kurang beruntung buntil kempislah yang disandangnya keliling kampung.
“ Jadi kalau aku masuk sekolah agama tentu akan mamakiah seperti itu ya” pikirku. “ Ah, tidak,tidak, aku malu”
Kemudian aku katakan kepada Inyiakku, “ aku masuk SMP saja Nyiak karena cita-citaku ingin menjadi penyiar radio.
“Penyia radio? Apa pula itu? Baru sekali ini aku mendengar, apa yang akan dapat diperoleh dari penyiar radio” Demikian barangkali pemikiran di kepala Inyiakku.
Namun beliau tidak mematahkan cita-citaku. “Kalaulah itu keinginan waang bagaimana lagi”.
Kemudian Inyiakku diam, aku juga diam bersama diamnya malam di kampungku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar