cerbung bagian III
KAMPUNGKU DULU
OLEH: Kasra Scorpi
Di dalam sungai terdapat berjenis-jenis ikan, yang paling terkenal adalah ikan gariang, sedangkan yang paling besar ikan panjang. Ikan tersebut ditangkap dengan menggunakan alat tradisional seperti tangguk, kail, tikalak,lukah dan bagi yang ahli hanya dengan tangan saja. Menangkap ikan dengan tangan oleh orang kampungku disebut dengan mandehe.
Tetapi orang usil ada juga yang menangkap ikan menggunakan tuba yang diambil dari getah tumbuhan, membuat anak-anak ikan turut mati oleh tuba itu. Oleh Inyiak Wali orang-orang usil itu kalau kedapatan menuba ikan dikenakan sanksi dengan membayar denda beberapa ketiding padi.
Pada tempat-tempat tertentu di tepian sungai dibangun tempat mandi dan mencuci bagi orang kampung . Aku sering mandi ke situ.
Di pinggir sungai terdapat sebatang pohon beringin besar. Menurut cerita usia beringin itu lebih tua dari usia kampungku. Sebabnya kampungku bernama baringin karena pohon besar itulah.
Bagi kebanyakan orang, pohon beringin bukan sembarang pohon, pohon itu dianggap sakti karena dihuni oleh makhluk halus bernama ramunian. Menurut orang yang percaya kepada ramunian, telah banyak orang yang sakit karena disapo ramunian di pohon beringin. Orang yang kena sapo badannya akan lemah sebelah, tangannya cengkok, lidahnya patah, demam panas dan sebagainya.
Untuk mengobatinya biasanya dukun menyuruh keluarga yang kena sapo memberi ramunian antar-antaran berupa sesajian berisi nasi kunyit singgang ayam. Sesajian tersebut diletakkan di bawah pohon beringin.
Kata orang, ada yang sembuh dengan obat antar-antaran, tetapi banyak juga yang meninggal. Karena itu orang kampungku yang pada umumnya percaya kepada ramunian takut sekali mendekat ke daerah sekitar pohon beringin. Orang kampungku tidak berani menangguk ikan, membunuh binatang dan meretas tumbuhan di dekat pohon beringin tersebut. Layaknya daerah sekitar pohon beringin bagaikan daerah cagar alam.
Tidak jauh betul dari pohon beringin, masih di tepi sungai, berdiri sebuah surau. Karena di dekat surau terdapat kincir penumbuk padi, maka surau itu dinamakan dengan surau kincir. Suraunya cukup besar tetapi tidak begitu bagus. Surau itu sehari-hari ditunggui oleh seorang garin bernama Si Majen. Dialah yang menjaganya, dialah yang mengemasi tikar tempat anak-anak mengaji, dialah yang azan waktu shalat datang, dialah yang menjadi imam, dia pualah yang mengajari anak-anak mengaji di waktu malam. Lengkap benar tugas Si Majen.
Pada malam hari, surau kincir merupakan pusat kegiatan anak-anak yang sudah patut mengaji, termasuk aku. Selain mengaji, anak laki-laki kebanyakan tidur di situ. Menurut kebiasaan dikampungku, bila anak laki-laki tidur dirumah ditertawakan teman-teman sebaya sebagai anak yang suka lalok dengan uwaik.
Kalau anak perempuan memang pulang sehabis mengaji.Mereka pulang ada yang dijemput, disamping ada yang pulang sendiri. Mereka pulang menggunakan colok terbuat dari bambu, cahaya colok yang berkelap-kelip menerobos kepekatan malam di kampungku.
Selain oleh anak-anak yang mengaji, surau kincir ramai oleh pemuda kampung yang tidur di situ. Biasanya pemuda datang sehabis anak-anak mengaji, setelah mereka main domino dan maota-ota di warung-warung dalam kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar