Unik

Selasa, 14 Juni 2011

krisis moral

KRISIS KEBANGSAAN DIMULAI OLEH ELITE
Oleh:Kasra Scorpi
   Banyak orang yang beranggapan bahwa meningkatnya  krisis moral dan rasa kebangsaan  karena tidak ada lagi mata pelajaran pendidikan moral pancasila(PMP) di sekolah-sekolah.
    Anggapan itu keliru,siapa bilang tidak ada pendidikan moral  pancasila disekolah? Malah pendidikan moral pancasila  sudah overlap. Dalam pelajaran sejarah, kewargaan negara, budi pekerti, budaya minangkabau(muatan lokal Sumbar), dan dalam mata pelajaran lain diajarkan pendidikan moral(pancasila).
        Yang tidak ada lagi hanya mata pelajaran yang  berjudul PMP, sedangkan  substansi  moral pancasila tetap diajarkan
    Pada upacara bendera  setiap Senin, pancasila, sumpah pemuda  dan  pembukaan UUD 1945 selalu dibacakan,lambang negara burung garuda digantung di lokal-lokal sekolah. Setiap kali  upacara memperingati hari besar nasional siswa diusung ke lapangan dengan barisan panjang. Pada ceramah kultum tiap hari jumat dan  ketika  guru  “ mencereteti”  siswa yang bersalah nilau-nilai moral selalu ditanamkan. 
       Untuk menerapkan nilai-nilai moral dan kejujuran, sekolah  membangun kantin kejujuran, dimana siswa  belanja sendiri , mengambil barang sendiri dan membayar sendiri  dengan meletakkan uang pada kotak kantin  secara jujur.
       Untuk mengaplikasikan rasa persatuan di sekolah masih diselenggarakan gotong royong.
       Sebelum  memulai pelajaran siswa diharuskan berdoa dan membaca  kitab suci, pada waktu tertentu   melaksanakan psantren kilat, zikir bersama, tabligh akbar,shalat berjamaah, lomba  asmaul husna, dan sebagainya, tak ketinggalan mewajibkan siswi pakai jilbab.
       Juga razia-razia terhadap aktifitas yang melanggar moral dan agama dilakukan seperti razia narkoba, senjata tajam, gambar porno dalam hp. Tak tanggung-tanggung yang melakukan razia masuk sekolah kadang Satpol PP.
        Karena itu adanya anggapan bahwa krisis moral disebabkan karena  tidak ada PMP dan harus diadakan lagi PMP patut dicurigai sebagai upaya menciptakan proyek baru untuk  menyediakan buku baru, proyek penataran  guru, dan pengadaan  perangkat lain untuk mata pelajaran tersebut. Yang pada gilirannya proyek tersebut menciptakan  ketidakjujuran baru.
        Kalau toh ingin  lebih mempertajam pendidikan moral (pancasila)  tidak perlu penambahan  mata pelajaran, cukup mata pelajaran yang ada yang  berkaitan dengan moral pancasila diberdayakan karena saat ini beban belajar siswa semakin  berat. Kalau ingin juga  ada mata pelajaran  berjudul PMP  jadikan mata pelajaran kewargaan negara sebagai PMP, tapi tak usah ditambah lagi, kasihan kita terhadap siswa .
        Dengan mata pelajaran yang ada sekarang siswa bagaikan mobil angkot di kota Padang yang mesin(otaknya) harus jalan tanpa henti  dari pagi sampai malam untuk belajar, tanpa ada waktu istirahat dan bersosialisasi dengan lingkungannya.   
    Saya melihat krisis moral dan krisis kebangsaan bukan karena tidak ada mata pelajaran PMP, tetapi lebih dikarenakan oleh  krisis keteladanan yang makin meluas.
        Sekarang siapa lagi  yang akan diteladani?. Orang-orang yang semestinya menjadi teladan, sebut saja profesor, doktor, jenderal, pejabat tinggi negara, wakil rakyat, tokoh, termasuk orang tua sendiri mengalami degradasi moralitas, banyak diantara mereka  yang masuk bui, banyak diantaranya yang terlibat narkoba, pornografi dan prilaku tidak bermoral lainnya.
    Ketika sekolah mengajarakan kepada siswa bahwa kita harus mengedepankan moral , kejujuran ,mencintai dan membela negara tanpa pamrih malah orang yang seharusnya menjadi teladan itu  menghancurkan negara.      Malah yang membuat kita tidak habis pikir para penghancur nagara dan moral itu justru mereka yang dulu dididik dengan mata pelajaran Agama,  PMP, PSPB(Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan telah berkali-kali mengikuti penataran P4.
    Kemudian  disadari atau tidak  dunia pendidikan sendiri yakni  managemen sekolah ikut serta  merubuhkan nilai-nilai moral kejujuran. Sebagai bukti betapa banyak sekolah yang didemo masyarakat termasuk oleh siswanya sendiri akibat dana Bos maupun uang pembangunan yang disalahgunakan. Bahkan UN yang dibiayai dengan dana besar menjadi ajang ketidakjujuran berjamaah dengan cara  membagikan kunci jawaban,pembocoran soal, menggerakkan nyontek massal seperti yang terjadi di SD Gadel II/577 Surabaya yang diungkap orang tua murid bernama Siami.
     Membangun moral dan karakter  anak bangsa tidak cukup kalau hanya dengan mata pelajaran di sekolah, yang amat penting adalah menciptakan lingkungan pendidikan, masyarakat dan keluarga  yang bermoral dengan cara memberi teladan oleh para orang tua, orang-orang penting atau “primus interpares”ikutan masyarakat, dan memberikan sanksi yang berat terhadap mereka yang melakukan pelanggaran moral(pancasila).
    Karena faktor lingkungan  besar pengaruhnya terhadap pembangunan karakter masyarakat. Dalam dunia pendidikan dikenal teori tabularasa yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan bagaikan kertas putih,mau ditulis dengan apa kertas itu ditentukan oleh miliu atau lingkungannya***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar