KRISIS KEBANGSAAN DIMULAI OLEH ELITE
Oleh:Kasra Scorpi
Banyak orang yang beranggapan bahwa meningkatnya krisis moral dan rasa kebangsaan karena tidak ada lagi mata pelajaran pendidikan moral pancasila(PMP) di sekolah-sekolah.
Anggapan itu keliru,siapa bilang tidak ada pendidikan moral pancasila disekolah? Malah pendidikan moral pancasila sudah overlap. Dalam pelajaran sejarah, kewargaan negara, budi pekerti, budaya minangkabau(muatan lokal Sumbar), dan dalam mata pelajaran lain diajarkan pendidikan moral(pancasila).
Yang tidak ada lagi hanya mata pelajaran yang berjudul PMP, sedangkan substansi moral pancasila tetap diajarkan
Pada upacara bendera setiap Senin, pancasila, sumpah pemuda dan pembukaan UUD 1945 selalu dibacakan,lambang negara burung garuda digantung di lokal-lokal sekolah. Setiap kali upacara memperingati hari besar nasional siswa diusung ke lapangan dengan barisan panjang. Pada ceramah kultum tiap hari jumat dan ketika guru “ mencereteti” siswa yang bersalah nilau-nilai moral selalu ditanamkan.
Untuk menerapkan nilai-nilai moral dan kejujuran, sekolah membangun kantin kejujuran, dimana siswa belanja sendiri , mengambil barang sendiri dan membayar sendiri dengan meletakkan uang pada kotak kantin secara jujur.
Untuk mengaplikasikan rasa persatuan di sekolah masih diselenggarakan gotong royong.
Sebelum memulai pelajaran siswa diharuskan berdoa dan membaca kitab suci, pada waktu tertentu melaksanakan psantren kilat, zikir bersama, tabligh akbar,shalat berjamaah, lomba asmaul husna, dan sebagainya, tak ketinggalan mewajibkan siswi pakai jilbab.
Juga razia-razia terhadap aktifitas yang melanggar moral dan agama dilakukan seperti razia narkoba, senjata tajam, gambar porno dalam hp. Tak tanggung-tanggung yang melakukan razia masuk sekolah kadang Satpol PP.
Karena itu adanya anggapan bahwa krisis moral disebabkan karena tidak ada PMP dan harus diadakan lagi PMP patut dicurigai sebagai upaya menciptakan proyek baru untuk menyediakan buku baru, proyek penataran guru, dan pengadaan perangkat lain untuk mata pelajaran tersebut. Yang pada gilirannya proyek tersebut menciptakan ketidakjujuran baru.
Kalau toh ingin lebih mempertajam pendidikan moral (pancasila) tidak perlu penambahan mata pelajaran, cukup mata pelajaran yang ada yang berkaitan dengan moral pancasila diberdayakan karena saat ini beban belajar siswa semakin berat. Kalau ingin juga ada mata pelajaran berjudul PMP jadikan mata pelajaran kewargaan negara sebagai PMP, tapi tak usah ditambah lagi, kasihan kita terhadap siswa .
Dengan mata pelajaran yang ada sekarang siswa bagaikan mobil angkot di kota Padang yang mesin(otaknya) harus jalan tanpa henti dari pagi sampai malam untuk belajar, tanpa ada waktu istirahat dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Saya melihat krisis moral dan krisis kebangsaan bukan karena tidak ada mata pelajaran PMP, tetapi lebih dikarenakan oleh krisis keteladanan yang makin meluas.
Sekarang siapa lagi yang akan diteladani?. Orang-orang yang semestinya menjadi teladan, sebut saja profesor, doktor, jenderal, pejabat tinggi negara, wakil rakyat, tokoh, termasuk orang tua sendiri mengalami degradasi moralitas, banyak diantara mereka yang masuk bui, banyak diantaranya yang terlibat narkoba, pornografi dan prilaku tidak bermoral lainnya.
Ketika sekolah mengajarakan kepada siswa bahwa kita harus mengedepankan moral , kejujuran ,mencintai dan membela negara tanpa pamrih malah orang yang seharusnya menjadi teladan itu menghancurkan negara. Malah yang membuat kita tidak habis pikir para penghancur nagara dan moral itu justru mereka yang dulu dididik dengan mata pelajaran Agama, PMP, PSPB(Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan telah berkali-kali mengikuti penataran P4.
Kemudian disadari atau tidak dunia pendidikan sendiri yakni managemen sekolah ikut serta merubuhkan nilai-nilai moral kejujuran. Sebagai bukti betapa banyak sekolah yang didemo masyarakat termasuk oleh siswanya sendiri akibat dana Bos maupun uang pembangunan yang disalahgunakan. Bahkan UN yang dibiayai dengan dana besar menjadi ajang ketidakjujuran berjamaah dengan cara membagikan kunci jawaban,pembocoran soal, menggerakkan nyontek massal seperti yang terjadi di SD Gadel II/577 Surabaya yang diungkap orang tua murid bernama Siami.
Membangun moral dan karakter anak bangsa tidak cukup kalau hanya dengan mata pelajaran di sekolah, yang amat penting adalah menciptakan lingkungan pendidikan, masyarakat dan keluarga yang bermoral dengan cara memberi teladan oleh para orang tua, orang-orang penting atau “primus interpares”ikutan masyarakat, dan memberikan sanksi yang berat terhadap mereka yang melakukan pelanggaran moral(pancasila).
Karena faktor lingkungan besar pengaruhnya terhadap pembangunan karakter masyarakat. Dalam dunia pendidikan dikenal teori tabularasa yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan bagaikan kertas putih,mau ditulis dengan apa kertas itu ditentukan oleh miliu atau lingkungannya***
Banyak orang yang beranggapan bahwa meningkatnya krisis moral dan rasa kebangsaan karena tidak ada lagi mata pelajaran pendidikan moral pancasila(PMP) di sekolah-sekolah.
Anggapan itu keliru,siapa bilang tidak ada pendidikan moral pancasila disekolah? Malah pendidikan moral pancasila sudah overlap. Dalam pelajaran sejarah, kewargaan negara, budi pekerti, budaya minangkabau(muatan lokal Sumbar), dan dalam mata pelajaran lain diajarkan pendidikan moral(pancasila).
Yang tidak ada lagi hanya mata pelajaran yang berjudul PMP, sedangkan substansi moral pancasila tetap diajarkan
Pada upacara bendera setiap Senin, pancasila, sumpah pemuda dan pembukaan UUD 1945 selalu dibacakan,lambang negara burung garuda digantung di lokal-lokal sekolah. Setiap kali upacara memperingati hari besar nasional siswa diusung ke lapangan dengan barisan panjang. Pada ceramah kultum tiap hari jumat dan ketika guru “ mencereteti” siswa yang bersalah nilau-nilai moral selalu ditanamkan.
Untuk menerapkan nilai-nilai moral dan kejujuran, sekolah membangun kantin kejujuran, dimana siswa belanja sendiri , mengambil barang sendiri dan membayar sendiri dengan meletakkan uang pada kotak kantin secara jujur.
Untuk mengaplikasikan rasa persatuan di sekolah masih diselenggarakan gotong royong.
Sebelum memulai pelajaran siswa diharuskan berdoa dan membaca kitab suci, pada waktu tertentu melaksanakan psantren kilat, zikir bersama, tabligh akbar,shalat berjamaah, lomba asmaul husna, dan sebagainya, tak ketinggalan mewajibkan siswi pakai jilbab.
Juga razia-razia terhadap aktifitas yang melanggar moral dan agama dilakukan seperti razia narkoba, senjata tajam, gambar porno dalam hp. Tak tanggung-tanggung yang melakukan razia masuk sekolah kadang Satpol PP.
Karena itu adanya anggapan bahwa krisis moral disebabkan karena tidak ada PMP dan harus diadakan lagi PMP patut dicurigai sebagai upaya menciptakan proyek baru untuk menyediakan buku baru, proyek penataran guru, dan pengadaan perangkat lain untuk mata pelajaran tersebut. Yang pada gilirannya proyek tersebut menciptakan ketidakjujuran baru.
Kalau toh ingin lebih mempertajam pendidikan moral (pancasila) tidak perlu penambahan mata pelajaran, cukup mata pelajaran yang ada yang berkaitan dengan moral pancasila diberdayakan karena saat ini beban belajar siswa semakin berat. Kalau ingin juga ada mata pelajaran berjudul PMP jadikan mata pelajaran kewargaan negara sebagai PMP, tapi tak usah ditambah lagi, kasihan kita terhadap siswa .
Dengan mata pelajaran yang ada sekarang siswa bagaikan mobil angkot di kota Padang yang mesin(otaknya) harus jalan tanpa henti dari pagi sampai malam untuk belajar, tanpa ada waktu istirahat dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Saya melihat krisis moral dan krisis kebangsaan bukan karena tidak ada mata pelajaran PMP, tetapi lebih dikarenakan oleh krisis keteladanan yang makin meluas.
Sekarang siapa lagi yang akan diteladani?. Orang-orang yang semestinya menjadi teladan, sebut saja profesor, doktor, jenderal, pejabat tinggi negara, wakil rakyat, tokoh, termasuk orang tua sendiri mengalami degradasi moralitas, banyak diantara mereka yang masuk bui, banyak diantaranya yang terlibat narkoba, pornografi dan prilaku tidak bermoral lainnya.
Ketika sekolah mengajarakan kepada siswa bahwa kita harus mengedepankan moral , kejujuran ,mencintai dan membela negara tanpa pamrih malah orang yang seharusnya menjadi teladan itu menghancurkan negara. Malah yang membuat kita tidak habis pikir para penghancur nagara dan moral itu justru mereka yang dulu dididik dengan mata pelajaran Agama, PMP, PSPB(Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan telah berkali-kali mengikuti penataran P4.
Kemudian disadari atau tidak dunia pendidikan sendiri yakni managemen sekolah ikut serta merubuhkan nilai-nilai moral kejujuran. Sebagai bukti betapa banyak sekolah yang didemo masyarakat termasuk oleh siswanya sendiri akibat dana Bos maupun uang pembangunan yang disalahgunakan. Bahkan UN yang dibiayai dengan dana besar menjadi ajang ketidakjujuran berjamaah dengan cara membagikan kunci jawaban,pembocoran soal, menggerakkan nyontek massal seperti yang terjadi di SD Gadel II/577 Surabaya yang diungkap orang tua murid bernama Siami.
Membangun moral dan karakter anak bangsa tidak cukup kalau hanya dengan mata pelajaran di sekolah, yang amat penting adalah menciptakan lingkungan pendidikan, masyarakat dan keluarga yang bermoral dengan cara memberi teladan oleh para orang tua, orang-orang penting atau “primus interpares”ikutan masyarakat, dan memberikan sanksi yang berat terhadap mereka yang melakukan pelanggaran moral(pancasila).
Karena faktor lingkungan besar pengaruhnya terhadap pembangunan karakter masyarakat. Dalam dunia pendidikan dikenal teori tabularasa yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan bagaikan kertas putih,mau ditulis dengan apa kertas itu ditentukan oleh miliu atau lingkungannya***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar