HASIL PEMILU THAILAND MINGGU LALU(3/7)
Yinluck
KM.Juli
Ternyata wanita-wanita Asia lebih perkasa. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya diantara mereka yang tampil ke dunia politik yang terkenal keras. Sebagai misal di Indonesia sejak dulu banyak tampil tokoh pergerakan wanita, teakhir Dyah Permata Megawati Soekarno Puti yang sempat menjadi presiden, di India ada Primathi Indra Pryadharsini Ghandi, di Srilangka Srimavo Bandaraneike, di Pakistan Benazir Butho, di Bangladesh Syeh Hasina, Myanmar Aung San Suky, Pilipna Corry Aquino, Aroyo Macapagal, dan kini di Thailand tampil Yingluck Shinawatra. Dia menang dalam Pemilu baru lalu.
Sekitar 47 juta warga Thailand ikut pemilu, kemarin. Persaingan ketat terjadi antara kubu Partai Phue Thai (PTP) yang mengusung calon PM Yingluck Shinawatra, dengan Abhisit Vejjajiva, sang incumbent dari Partai Demokrat. Meski demikian, kubu Yingluck (44) di atas angin alias memimpin.
Jika sukses, Yingluck, adik bungsu PM yang dikudeta Thaksin Shinawatra, akan menjadi PM wanita pertama di Thailand. Thaksin yang tinggal di pengasingan menelepon Yingluck, kemarin. Dia untuk mengucapkan selamat atas usahanya memenangi PTP, meskipun pengumuman hasil pemilu resmi belum keluar.
“Bapak Thaksin menelepon saya. Dia menyatakan selamat dan mendukung saya. Dia mengingatkan, kerja keras masih harus kami lakukan untuk selanjutnya,” kata Yingluck, usai pencontrengan, kemarin.
Juru bicara Partai Demokrat menolak mengomentari hasil sementara pemilu dan survei. Pihaknya masih menunggu hasil penghitungan suara yang resmi. Demokrat menyerukan agar setiap orang menghormati hasil pemilu.
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Thailand Apichart Sukhagganond, seluruh hasil pemilu sudah harus masuk sore pukul 05.00-06.00. Hasil pemilu sementara sudah dapat diketahui malam ini. “Penghitungan suara akan selesai di setiap tempat pemungutan suara. Setiap tempat pemungutan suara melayani 800 suara,” ujarnya.
Pemungutan suara dimulai pukul 08.00 waktu setempat (08.00 WIB) dan ditutup pukul 15.00. Lebih dari 170.000 polisi dikerahkan untuk melindungi tempat pemungutan suara. Pemilu kali ini diikuti 3.832 dari 42 partai yang akan memperebutkan 500 kursi di Palemen.
Yingluck memberikan suaranya di kotak pemungutan suara nomor 32 di sekolah Wat Klong Lamchiag di subdistrik Nawamin, Bangkok.
Lawan politiknya, Abhisit memberikan suara tempat pemungutan suara nomor 4 di sekolah Sawasdee Witthaya di Sukhumvit Soi 31, distrik Watthana, Bangkok. Dia bersama istrinya, Pimpen, dan anak perempuannya, Prang, tiba di tempat pemungutan suara sekitar pukul 10 pagi.
Juru bicara Komisi Pemilihan Umum Thailand, Paiboon Lekprom, mengatakan pungutan suara berakhir pukul tiga sore waktu setempat. Hasilnya kemudian diumumkan setelah pukul delapan malam. “Sementara soal pelantikan sang pemenang, selambat-lambatnya akan dilakukan 30 hari pasca pengumuman. Itu sesuai dengan ketentuan pengadilan,” ujar Lekprom seperti dilansir Bloomberg, kemarin.
Tiga survei menjagokan PTP yang didirikan Thaksin meraih suara mayoritas. Hasil survei yang diadakan Suan Dusti Poll memperkirakan Pheu Thai akan menguasai 313 kursi di parlemen dari total 500 kursi. Sedangkan Demokrat akan memenangi 152 kursi.
Sedangkan berdasarkan survei Universitas Sripathum, PTP akan memenangi 290 kursi dan Demokrat meraih 140 kursi di parlemen. Adapun survei yang digelar Universitas Assumption, PTP akan menang dengan 299 kursi dan Demokrat hanya 132 kursi.
Dalam kampanye, meski diserang habis-habisan kubu berkuasa, kans Yingluck dan Puea Thai untuk memenangi pemilu kemarin sangat besar. Itu tak lepas dari tingginya popularitas Thaksin di kalangan bawah, terutama mereka yang tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup pada pertanian.
Jumlah basis pendukung Thaksin itu mencapai 24 juta di antara total 67 juta warga Thailand. Mereka membentuk barisan yang dikenal dengan Kaos Merah barisan pendukung Thaksin di sekitar 1.000 desa. Mayoritas tersebar di wilayah utara dan timur Negeri Gajah Putih itu.
Namun, meski yakin menang, tak sedikit kaum Thaksinite alias pendukung Thaksin yang khawatir mereka bakal dicurangi. Maklum, mereka berhadapan dengan partai berkuasa yang mendapat dukungan penuh kalangan militer.
“Kalau benar kami dicurangi, bakal ada protes besar-besaran di Bangkok,” kata Tan Chaitep, wakil ketua barisan Kaus Merah dari Desa Ban Nong Hoo Ling, Provinsi Udon Thai, kepada BBC.
Pengamat Thailand dari La Trobe University di Melbourne, Michael Connors, berpendapat, tingginya prospek kemenangan Pheu Thai, agaknya telah meningkatkan kewaspadaan kekerasan pasca pemilu. “Kabar selama sebulan terakhir, para investor di Thailand banyak yang menjual sahamnya. Mereka khawatir, pihak yang berkompeten melakukan kudeta melancarkan aksinya pasca pemilu,” ujar Connors sebelum pemungutan suara.
Jika sukses, Yingluck, adik bungsu PM yang dikudeta Thaksin Shinawatra, akan menjadi PM wanita pertama di Thailand. Thaksin yang tinggal di pengasingan menelepon Yingluck, kemarin. Dia untuk mengucapkan selamat atas usahanya memenangi PTP, meskipun pengumuman hasil pemilu resmi belum keluar.
“Bapak Thaksin menelepon saya. Dia menyatakan selamat dan mendukung saya. Dia mengingatkan, kerja keras masih harus kami lakukan untuk selanjutnya,” kata Yingluck, usai pencontrengan, kemarin.
Juru bicara Partai Demokrat menolak mengomentari hasil sementara pemilu dan survei. Pihaknya masih menunggu hasil penghitungan suara yang resmi. Demokrat menyerukan agar setiap orang menghormati hasil pemilu.
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Thailand Apichart Sukhagganond, seluruh hasil pemilu sudah harus masuk sore pukul 05.00-06.00. Hasil pemilu sementara sudah dapat diketahui malam ini. “Penghitungan suara akan selesai di setiap tempat pemungutan suara. Setiap tempat pemungutan suara melayani 800 suara,” ujarnya.
Pemungutan suara dimulai pukul 08.00 waktu setempat (08.00 WIB) dan ditutup pukul 15.00. Lebih dari 170.000 polisi dikerahkan untuk melindungi tempat pemungutan suara. Pemilu kali ini diikuti 3.832 dari 42 partai yang akan memperebutkan 500 kursi di Palemen.
Yingluck memberikan suaranya di kotak pemungutan suara nomor 32 di sekolah Wat Klong Lamchiag di subdistrik Nawamin, Bangkok.
Lawan politiknya, Abhisit memberikan suara tempat pemungutan suara nomor 4 di sekolah Sawasdee Witthaya di Sukhumvit Soi 31, distrik Watthana, Bangkok. Dia bersama istrinya, Pimpen, dan anak perempuannya, Prang, tiba di tempat pemungutan suara sekitar pukul 10 pagi.
Juru bicara Komisi Pemilihan Umum Thailand, Paiboon Lekprom, mengatakan pungutan suara berakhir pukul tiga sore waktu setempat. Hasilnya kemudian diumumkan setelah pukul delapan malam. “Sementara soal pelantikan sang pemenang, selambat-lambatnya akan dilakukan 30 hari pasca pengumuman. Itu sesuai dengan ketentuan pengadilan,” ujar Lekprom seperti dilansir Bloomberg, kemarin.
Tiga survei menjagokan PTP yang didirikan Thaksin meraih suara mayoritas. Hasil survei yang diadakan Suan Dusti Poll memperkirakan Pheu Thai akan menguasai 313 kursi di parlemen dari total 500 kursi. Sedangkan Demokrat akan memenangi 152 kursi.
Sedangkan berdasarkan survei Universitas Sripathum, PTP akan memenangi 290 kursi dan Demokrat meraih 140 kursi di parlemen. Adapun survei yang digelar Universitas Assumption, PTP akan menang dengan 299 kursi dan Demokrat hanya 132 kursi.
Dalam kampanye, meski diserang habis-habisan kubu berkuasa, kans Yingluck dan Puea Thai untuk memenangi pemilu kemarin sangat besar. Itu tak lepas dari tingginya popularitas Thaksin di kalangan bawah, terutama mereka yang tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup pada pertanian.
Jumlah basis pendukung Thaksin itu mencapai 24 juta di antara total 67 juta warga Thailand. Mereka membentuk barisan yang dikenal dengan Kaos Merah barisan pendukung Thaksin di sekitar 1.000 desa. Mayoritas tersebar di wilayah utara dan timur Negeri Gajah Putih itu.
Namun, meski yakin menang, tak sedikit kaum Thaksinite alias pendukung Thaksin yang khawatir mereka bakal dicurangi. Maklum, mereka berhadapan dengan partai berkuasa yang mendapat dukungan penuh kalangan militer.
“Kalau benar kami dicurangi, bakal ada protes besar-besaran di Bangkok,” kata Tan Chaitep, wakil ketua barisan Kaus Merah dari Desa Ban Nong Hoo Ling, Provinsi Udon Thai, kepada BBC.
Pengamat Thailand dari La Trobe University di Melbourne, Michael Connors, berpendapat, tingginya prospek kemenangan Pheu Thai, agaknya telah meningkatkan kewaspadaan kekerasan pasca pemilu. “Kabar selama sebulan terakhir, para investor di Thailand banyak yang menjual sahamnya. Mereka khawatir, pihak yang berkompeten melakukan kudeta melancarkan aksinya pasca pemilu,” ujar Connors sebelum pemungutan suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar