Unik

Minggu, 03 Juli 2011

WANITA ASIA TERNYATA LEBIH PERKASA

  




 HASIL PEMILU THAILAND MINGGU LALU(3/7)



Yinluck

KM.Juli
         Ternyata wanita-wanita Asia lebih perkasa. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya diantara mereka  yang tampil ke dunia politik yang terkenal keras. Sebagai misal di Indonesia sejak dulu banyak tampil tokoh pergerakan wanita, teakhir Dyah Permata Megawati Soekarno Puti yang sempat menjadi presiden, di India ada Primathi Indra Pryadharsini Ghandi, di Srilangka Srimavo Bandaraneike, di Pakistan Benazir Butho, di Bangladesh Syeh Hasina, Myanmar Aung San Suky, Pilipna Corry Aquino, Aroyo Macapagal, dan kini di Thailand tampil  Yingluck Shinawatra. Dia menang dalam Pemilu  baru lalu.

Sekitar 47 juta warga Thailand ikut pemilu, kemarin. Persaingan ketat terjadi antara kubu Partai Phue Thai (PTP) yang mengusung calon PM Yingluck Shinawatra, dengan Abhisit Vejjajiva, sang incumbent dari Partai Demokrat. Meski demikian, kubu Yingluck (44) di atas angin alias memimpin.

Jika sukses, Yingluck, adik bungsu PM yang dikudeta Thak­sin Shinawatra, akan menjadi PM wanita pertama di Thailand. Thaksin yang  tinggal di peng­asingan menelepon Yingluck, kemarin. Dia untuk meng­ucap­kan selamat atas usahanya me­me­nangi PTP, meskipun pengu­muman hasil pemilu resmi belum keluar.

“Bapak Thaksin menelepon saya. Dia menyatakan selamat dan mendukung saya. Dia meng­ingatkan, kerja keras masih harus kami lakukan untuk selanjutnya,” kata Yingluck, usai pen­con­trengan, kemarin.

Juru bicara Partai Demokrat me­nolak mengomentari hasil sementara pemilu dan survei. Pi­haknya masih menunggu hasil penghitungan suara yang resmi. Demokrat menyerukan agar set­iap orang menghormati hasil pemilu.

Menurut Ketua Komisi Pe­milihan Umum Thailand Api­chart Sukhagganond, seluruh ha­sil pemilu sudah harus masuk sore pukul 05.00-06.00. Hasil pemilu sementara sudah dapat diketahui malam ini. “Penghi­tungan suara akan selesai di setiap tempat pemungutan suara. Setiap tempat pemungutan suara melayani 800 suara,” ujarnya.

Pemungutan suara dimulai pu­kul 08.00 waktu setempat (08.00 WIB) dan ditutup pukul 15.00. Lebih dari 170.000 polisi dike­rahkan untuk melindungi tempat pemungutan suara. Pemilu kali ini diikuti 3.832 dari 42 partai yang akan memperebutkan 500 kursi di Palemen.

Yingluck memberikan sua­ranya di kotak pemungutan suara nomor 32 di sekolah Wat Klong Lamchiag di subdistrik Na­wa­min, Bangkok.

Lawan politiknya, Abhisit memberikan suara tempat pem­u­ngutan suara nomor 4 di sekolah Sawasdee Witthaya di Sukhumvit Soi 31, distrik Watthana, Bang­kok. Dia bersama istrinya, Pim­pen, dan anak perempuannya, Prang, tiba di tempat pemungutan suara sekitar pukul 10 pagi.

Juru bicara Komisi Pemilihan Umum Thailand, Paiboon Lek­prom, mengatakan pungutan su­ara berakhir pukul tiga sore waktu setempat. Hasilnya kemudian diumumkan setelah pukul de­la­pan malam. “Sementara soal pelantikan sang pemenang, se­lam­bat-lambatnya akan dila­ku­kan 30 hari pasca pengumuman. Itu sesuai dengan ketentuan pengadilan,” ujar Lekprom se­per­ti dilansir Bloomberg, kemarin.

Tiga survei menjagokan PTP yang didirikan Thaksin meraih su­ara mayoritas. Hasil survei yang diadakan Suan Dusti Poll mem­perkirakan Pheu Thai akan me­nguasai 313 kursi di parlemen dari total 500 kursi. Sedangkan De­mokrat akan memenangi 152 kursi.

Sedangkan berdasarkan survei Universitas Sripathum, PTP akan memenangi 290 kursi dan Demo­krat meraih 140 kursi di par­le­men. Adapun survei yang digelar Universitas Assumption, PTP akan menang dengan 299 kursi dan Demokrat hanya 132 kursi.

Dalam kampanye, meski dise­rang habis-habisan kubu ber­kuasa, kans Yingluck dan Puea Thai untuk memenangi pemilu kemarin sangat besar. Itu tak lepas dari tingginya popularitas Thak­sin di kalangan bawah, terutama mereka yang tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup pada pertanian.

Jumlah basis pendukung Thak­sin itu mencapai 24 juta di antara total 67 juta warga Thailand. Mereka membentuk barisan yang dikenal dengan Kaos Merah ba­risan pendukung Thaksin di se­kitar 1.000 desa. Mayoritas ter­sebar di wilayah utara dan timur Negeri Gajah Putih itu.

Namun, meski yakin menang, tak sedikit kaum Thaksinite alias pendukung Thaksin yang kha­watir mereka bakal dicu­rangi. Maklum, mereka ber­hadapan de­ngan partai berkuasa yang men­dapat dukungan pe­nuh kalangan militer.

“Kalau benar kami dicurangi, bakal ada protes besar-besaran di Bangkok,” kata Tan Chaitep, wakil ketua barisan Kaus Merah dari Desa Ban Nong Hoo Ling, Provinsi Udon Thai, kepada BBC.

Pengamat Thailand dari La Trobe University di Melbourne, Michael Connors, berpendapat, tingginya prospek kemenangan Pheu Thai, agaknya telah me­ning­katkan kewaspadaan keke­rasan pasca pemilu. “Kabar se­lama sebulan terakhir, para in­ves­tor di Thailand banyak yang menjual sahamnya. Mereka kha­wa­tir, pihak yang berkompeten melakukan kudeta melancarkan aksinya pasca pemilu,” ujar Connors sebelum pemungutan suara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar