Unik

Jumat, 14 Oktober 2011

satu tahun agam dalam potret

TAK ADA YANG BARU DI AGAM SETAHUN TERAKHIR
Oleh: Kasra Scorpi
                Bulan Oktober 2011 tepat 1 tahun kepemimpinan Indra Catri-Umar di Agam. Namun publik belum melihat dan merasakan sepak terjang Agam selama setahun itu.
                Malah publik merasakan kekecewaan. Kenapa tidak, baru sebulan pemerintahan jalan, wakil bupati Umar telah jadi tersangkan kasusu dugaan Korupsi di Dinas Pu. Padahal untuk memilih pasangan tersebut habis uang bermiliar-miliar dan menguras energi karena pemilihannya 2 kali putaran.
Sementara program yang diluncurkan telat mikir(telmi) dengan kemasan “Agam Menyemai”. Orang sudah lama panen kita baru menyemai, malu donk! Yang dilaksanakan dalam kegiatannya hanya menanam dan melepas bibit ikan yang merupakan  pekerjaan nenek moyang kita sejak dulu-dulu. Program tersebut lebih cocok disebut sebagai kegiatan “maapa-apa kaji”,karena  tidak ada yang baru.
Soal operasi taharah membersihkan lingkungan dan mencuci tangan dengan sabun juga bukan program, kayaknya pelajaran anak TK, di televisipun tiap harti ada iklan kebersihan itu.
Merekormurikan kolak labu, gulai kapalo ikan, dan limpiang kamang dinilai publik hanya kegiatan menghabiskan uang karena tidak banyak membawa efek terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. Coba saja lihat, sejak kolak labu direkormurikan ada tidak bertambah orang menjual kolak labu? Biasa-biasa kok!
Begitupun lomba nagari, lomba PKK, lomba ini, lomba itu dan sejibun lomba lainnya hanya seremonial, kalaupun juara tak banyak mempengaruhi kondisi masyarakat.
Sementara kegiatan hura-hura, upacara ini upcaran itu, kunjungan ke sana ke sini pejabat masih menjadi model sehingga menelan dana dan menimbulkan defisit puluhan milliar. Bayangkan lebih 70 persen APBD untuk belanja pegawai, sementara dana pebangunan untuk rakyat banyak yang tak terkucur karena kegagalan melaksanakan proyek. Tu cob alihat DAK di Dinas Pendidikan saja bermasalah, pekasanaannya dilakukan dalam waktru yangkasip, apa bisa sukses.
Tak terekecuali eksekutif, legislative Agam juga terkesan loyo, karena public tidak melihat produknya sebagai legislator, pengawas maupun perancang anggaran.
Sebenarnya kalau Agam dimenej dengan cerdas, program minimal yang harus dilakukan adalah menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu, seperti menyelesaikan persoalan lingkungan yang melanda danau amninjau, pembeasan tanah untuk jalan 2 jalur di Lubuk Basung, membangun infra struktur di daerah tertinggal, membereskan pendistribusian sarana produksi pertanian seperti pupuk yang tersendat-sendat, meramaikan kota Lubuk Basung dengan berbagai even yang sifatnya kerakyatan,serta menyelesaikan berbagai persoalan di dunia pariwisata, seperti Puncak Lawang, Sungai Tanag,Linggai  dan sebagainya.
Kalau masih tyersisa energy, bisa dirancang proyek strategis yang lebih besar. Obsesi membangun kreta gantuang dari Puncsak Lawang ke Bayur perlu dihidupkan kembali.
Salah satu kehebatan pendhulu adalah keberaniannya merancangprogram dan  proyek strategisi walau ada yang mengalami kegagalan seperti Pasar Amur, Pasar Agro Politan, PT Agam karya Prima, tetapi yang berahassil dan dapat dirasakan masyarakat juga ada seperti BMT, Agam Sport Centre, Bundaran di Lubuk Basung dan meletakkan dasar Badan Aml Zakat Agam dan seterusnya.
Dari sudut birokrasi pemerintahyan, publik melihat bahwa dalam setahun terakhir masih jalan ditempat malah ada kesan muncur, pelayanan prima yang dicanangkan itu kabur.
Yang cukup fatal penempatan pejabat pada jabatan masih terkesan suka tidak suka dengan perytyimbangan “jauh dan dekat”, ini dituding public sebagai dampak netral atau tidaknya pejabat saat Pilkada sebelumnya.
Yang cukp fatal pengisian SOTK baru Agam yang dilakukan 7 September 2011, dimana 7 pejabat eslon II dan 10 eselon didepak, padahal diantara mereka ada yang lebih potensial ketimbang yang diangkat sekarang. Kemudian “naturalisasi” yang belum tentu mengebnal Agam diapsok dari berbagai daerah.
Kono diengar kabar dari berbagai sumber, banyak pejabat yang berkeinginan untuk pindah karena merasa tidak kondusif dengan gaya kepemimpinan Agam sekarang.
Nah, kita mengemukakan beberapa hal yang bernada negatife tak brmaksud untuk menjelek-jelekkan, tetapi untik meberi semanagat agar Agam ke depan lebih maju***

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar