SIKAP KITA TERHADAP BENCANA
Oleh:Kasra Scorpi
Sebuah rumah yang terletak di pinggiran jalan ludes terbakar diamuk si jago merah, pemiliknya kehilangan tempat tinggal, hingga harus mengungsi ke rumah tetangga, harta benda mereka ludes terbakar.
Masyarakat sekitar ikut berduka, prihtain,menunjukkan kepedulian dengan memberikan sumbangan bahan makanan, pemuda mengumpulkan dana di jalan raya dengan meminta sumbangan kepada para pengendara yang lewat, juga kepada perantau dan kepada donatur lainnya, para pejabat mengunjungi lokasi sembari membawa bantuan, sejumlah janji, menyampaikan turut berduka dan prihatin.
Dengan dana sumbangan dari berbagai pihak tak lama kemudian rumah warga korban kebakaran itu dibangun kembali, bahkan kadang bangunan rumahnya lebih bagus dari bangunan yang terbakar.
Di sini kita berlaku sebagai masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi antar sesama, saling bantu membantu dalam suasana susah dan senang, “ sasakik sasanang, kaba buruak baambauan kaba baiak baimbauan”,kata pepatah orang Minangkabau.
Tetapi ketika longsoran tebing menimpa badan jalan yang membuat transportasi macet, masyarakat bergerombol menyaksikannya, orang-orang muda pada sibuk mencari kardus mi instan dan beberapa buah cangkul. Pekerjaan menggusur material longsoran dilakukan sekedar untuk melewatkan kendaraan, setelah itu yang lebih penting meminta sumbangan kepada pengendara yang lewat.
Untuk meraih pendapatan lebih besar pekerjaan itu tidak pernah mereka selesaikan, mereka meniginkan kondisi rusak itu berlangsung lama, padahal kalau dikerjakan secara benar dalam waktu sebentar material longsoran akan tergusur . Inilah yang disebut,”mencari kesempatan dalam kesempitan”.
Tanggal 30 September 2009 Sumbar diguncang gempa hebat, banyak korban nyawa dan harta benda, Sumbar menangis waktu itu, namun apa yang terjadi, harga minyak, mie instan, tumbok ban kendaraan dan sebagainya melonjak tajam dengan alasan barangnya sulit didapat. Disini, di tengah bencana masih berlaku hukum ekonomi, dimana ketika barang langka dan permintaan meningkat harga melajit. Hukum ekononim tidak peduli bencana dan kemanusiaan.
Bantuan untuk gempa besar itu tak kalah besar, ratusan milliar mungkin juga mencapai angka triliunan, penyaluran dilakukan melalui lembaga pemerintah maupun swasta.
Tetapi penyaluran tak terlepas dari berita-berita miring, di sana-sini terjadi pemotongan dengan berbagai dalih,lagi pula penyalurannya seperti diundur-undur, hingga 3 tahun bencana berlalu penyaluran bantuan itu belum tuntas-tuntas jua.
Tak sekedar memberikan bantuan material, masyarakat juga diajak melakukan pendekatan spiritual,memanjatkan doa , zikir bersama di lapangan, dilengkapi tausiah dengan mangajak meningkatkan keimanan dan peribadatan, agar Yang Maha Kuasa tidak lagi menurunkan bencana.
Tetapi perangai ataupun tingkah laku tak banyak berubah, kemaksiatan, saling “terkam menerkam”, saling mengembat milik bersama tak putus-putusnya. Pimpinan masih lain di mulut lain dihati.
Kita masih merupakan bangsa yang ambivalen menyikapi bencana. Apakah sikap itu sama dengan kemunafikan sebagai pemicu munculnya bencana baru? Yang Maha Kuasa mengatakan bahwa bencana akibata tingkah laku manusia di muka bumi***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar