PENDIDIKAN BERKARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN
Oleh:Kasra Scorpi
Pendidikan berakarakter akhir-akhir ini ramai mencuat dalam wacana publik. Banyak politisi, pejabat pemerintah maupun tokoh masyarakat berbicara tentang itu. Bahkan ada yang “taragak” membuat mata pelajaran baru untuk mendukung pendidikan berlabel karakter.
Namun ketika berwacana kontens atau substansi pendidikan berkarakter tidak dipaparkan secara jelas, kadang bicaranya hanya sekedar karakter orang karakter awak saja, sehingga masyarakat pada terbengong-bengong dibuatnya.
Cuma yang tertangkap dari wacana itu bahwa pendidikan berkarakter dimunculkan karena kegusaran melihat tingkah polah generasi muda bangsa dewasa ini yang tak karuan, gemar melanggar norma dan peradaban manusia. Gemar melanggar syariat agama, adat istiadat, HAM, hukum, maupun kaidah kehidupan berbangsa dan bernegara. Konkritnya suka tawuran, Narkoba, Miras, kebebasan seks, dan kurang hormat kepada orang tua dan guru.
Untuk memperbaiki kondisi carut marut itu dunia pendidikan diberi beban menyelenggarakan pendidikan berkarakter. Nah apa itu karakter?
Hakekatnya karakter merupakan watak yang teraplikasi dalam bentuk sikap dan prilaku manusia yang sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan, sosial dan hukum untuk menghadapi sesuatu. Oleh karena itu paling tidak kita membutuhkan karakter berupa sikap dan prilaku terhadap kehidupan beragama, bersosial, berbudaya, berbangsa dan bernegara.
Untuk itu pendidikan berkarakter sebenarnya telah dilakukan di lembaga pendidikan formal sekolah-sekolah melalui sejumlah mata pelajaran, seperti kewarga negaraan, sejarah, agama, budaya, muatan lokal dan sebagainya, kini dibuat pula kantin kejujuran, bahkan dulu ada mata pelajaran PMP, dan PSPB. Lagi pula setiap mata pelajaran mengandung unsur kognitif, afektif dan psikomotorik, dimana unsur afektif menekankan kepada sikap dan tingkah laku peserta didik.
Tetapi kenapa dunia pendidikan sepertinya gagal mentransfer nilai-nilai afeksi ke peserta didik? Masalahnya lembaga pendidikan kita lebih menekankan pencapaian kurikulum kepada aspek kognitif atau kecerdasan otak. Coba saja lihat, UN yang dijadikan sebagai indikasi keberhasilan pendidikan sangat mengedapankan aspek kognitif ketimbang afektif.
Kemudian masalahnya terletak pada cara mentransfer nilai! Untuk mentransfer nilai ataupun sikap dan tingkah laku tidak cukup kalau hanya dengan cuap-cuap tanpa pemberian contoh teladan secara konkrit oleh lembaga pendidikan dan personalnya serta oleh orang-orang yang semestinya harus memberikan contoh.
Disinilah masalah sesungguhnya! Sekarang kita kian langka menemui para pemberi contoh teladan, susah mencari siapa yang akan diteladani? Malah di lembaga pendidikan sendiri sering terjadi carut marut keteladanan.
Tak percaya! Setiap kali ujian nasional apa yang terjadi? Ada pembocoran soal, ada guru yang membagikan kunci jawaban, ada pengawas yang menunjuki peserta ujian dan sebagainya. Demi sebuah prestise sebuah sekolah kadang melakukan berbagai cara salah untuk meluluskan siswanya. Kongkalingkong penggunaan dana Bos, DAK dan dana komite tak kalah seru di beberapa sekolah, hal itupun didengar oleh para peserta didik dan mempengaruhi tingkah polah mereka.
Apalagi di luar kawasan lembaga pendidikan, keteladanan semakin dibikin “edan”, bahkan di rumah tangga sendiri banyak orang tua toh masih enggan memberikan teladan moralitas terhadap putra-putrinya.
Sebagai ilustrasi dapat digambar melalui sebuah kisah nyata seperti ini; “Suatu malam sang ayah menyuruh anaknya membuat pe er matematika yang diberikan gurunya di sekolah, tetapi di meja yang sama sang ayah juga mengerjakan pe er ‘matematika-nya’ dengan mengutak-atik angka-angka untuk memasang Togel” Nah contoh seperti ini apakah mampu membentuk karakter anak-anak?
Di luaran,di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga kemasyarakatan lainnya amat sering tersiar berita melalui media bahwa semakin banyak tokoh-tokohnya melakukan penyimpangan moral yang tanpa disadari akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter generasi muda.
Melihat kepada fenomena yang berkembang seperti itu sebuah kesimpulan kita adalah, melemahnya karakter generasi muda seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan bukan karena tidak adanya mata pelajaran bermuatan karakter di sekolah formal tetapi karena karakter pengelola lembaga pendidikan itu sendiri termasuk lembaga negara dan lembaga masyarakat lainnya yang mengalami degradasi karakter, sehingga berdampak kepada karakter generasi muda.
Oleh karena itu tidak perlu adanya pembuatan mata pelajaran dan pembentukan lembaga baru untuk mengurus pendidikan berkarakter, semua itu hanya akan menciptakan proyek dan menghabiskan anggaran secara sia-sia, tanpa hasil. Yang penting dilakukan adalah pembenahan dan pembetulan kinerja lembaga pendidikan yang ada.
Jadikanlah lembaga pendidikan itu berkarakter duluan, karena tidak mungkin terwujud pendidikan berkarakter di tengah lembaga pendidikan yang amburadul karakter
Kata “founding father” negara kita, Mohammad Hatta, “ Sesungguhnya manusia memang jauh dari karakter yang sempurna karena itu dia harus bekerja keras setiap waktu membetulkan kesalahan dan menyempurnakan karakternya” Ayo sama-sama memperbaiki karakter!***
