Unik

Rabu, 28 Desember 2011

Pendidikan Karakter Tanpa Karakter Pendidikan


PENDIDIKAN BERKARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN
Oleh:Kasra Scorpi
            Pendidikan berakarakter akhir-akhir ini ramai mencuat dalam wacana publik. Banyak politisi, pejabat pemerintah maupun tokoh masyarakat berbicara tentang itu. Bahkan ada yang “taragak” membuat mata pelajaran baru untuk mendukung pendidikan berlabel karakter.
Namun ketika berwacana kontens atau substansi pendidikan berkarakter tidak  dipaparkan secara jelas, kadang bicaranya hanya sekedar karakter orang karakter awak saja, sehingga masyarakat  pada terbengong-bengong dibuatnya.
           Cuma yang tertangkap dari wacana itu bahwa   pendidikan berkarakter dimunculkan  karena kegusaran melihat tingkah polah generasi muda  bangsa dewasa ini yang  tak karuan, gemar melanggar norma dan peradaban manusia. Gemar melanggar syariat agama, adat istiadat, HAM, hukum, maupun kaidah kehidupan berbangsa dan bernegara. Konkritnya suka tawuran, Narkoba, Miras, kebebasan seks, dan kurang hormat kepada orang tua dan guru.
            Untuk memperbaiki kondisi carut marut  itu  dunia pendidikan  diberi beban menyelenggarakan pendidikan berkarakter. Nah apa itu karakter?
            Hakekatnya karakter merupakan watak yang teraplikasi dalam bentuk  sikap dan prilaku manusia yang sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan, sosial dan hukum untuk menghadapi sesuatu. Oleh karena itu paling tidak kita membutuhkan karakter  berupa sikap dan prilaku terhadap kehidupan beragama, bersosial, berbudaya, berbangsa dan bernegara.
 Untuk itu  pendidikan berkarakter sebenarnya telah dilakukan di lembaga pendidikan  formal sekolah-sekolah melalui sejumlah mata pelajaran, seperti  kewarga negaraan, sejarah, agama, budaya, muatan lokal dan sebagainya, kini dibuat pula kantin kejujuran, bahkan dulu ada mata pelajaran PMP, dan PSPB. Lagi pula setiap mata pelajaran mengandung unsur kognitif, afektif dan psikomotorik, dimana unsur afektif menekankan kepada sikap dan tingkah laku peserta didik.
            Tetapi kenapa dunia pendidikan sepertinya gagal mentransfer nilai-nilai afeksi ke peserta didik? Masalahnya lembaga pendidikan kita lebih menekankan pencapaian kurikulum kepada aspek kognitif atau kecerdasan otak. Coba saja lihat, UN  yang dijadikan sebagai indikasi  keberhasilan  pendidikan sangat mengedapankan aspek kognitif ketimbang afektif.
Kemudian masalahnya terletak pada cara mentransfer nilai! Untuk mentransfer nilai ataupun sikap dan tingkah laku tidak cukup kalau hanya dengan cuap-cuap tanpa pemberian contoh teladan secara konkrit  oleh lembaga pendidikan dan personalnya  serta oleh orang-orang yang semestinya harus memberikan contoh.
             Disinilah masalah sesungguhnya!  Sekarang kita kian langka menemui para pemberi contoh teladan, susah mencari siapa yang akan diteladani? Malah di lembaga pendidikan sendiri sering terjadi carut marut keteladanan.
Tak percaya! Setiap kali ujian nasional  apa yang terjadi? Ada pembocoran soal, ada guru yang membagikan kunci jawaban, ada pengawas yang menunjuki peserta ujian dan sebagainya. Demi sebuah prestise sebuah sekolah kadang melakukan berbagai cara salah untuk meluluskan siswanya. Kongkalingkong penggunaan dana Bos, DAK  dan dana komite tak kalah seru di beberapa sekolah, hal itupun  didengar oleh para peserta didik dan mempengaruhi tingkah polah mereka.
            Apalagi di luar kawasan lembaga pendidikan, keteladanan semakin dibikin “edan”,  bahkan di rumah tangga sendiri banyak orang tua toh masih enggan memberikan teladan moralitas terhadap putra-putrinya.
            Sebagai ilustrasi  dapat digambar melalui sebuah kisah nyata seperti ini; “Suatu malam sang ayah menyuruh anaknya membuat pe er  matematika yang diberikan gurunya di sekolah, tetapi di meja yang sama sang ayah juga mengerjakan pe er ‘matematika-nya’ dengan mengutak-atik angka-angka untuk memasang Togel” Nah  contoh seperti ini apakah mampu membentuk karakter anak-anak?
            Di luaran,di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga kemasyarakatan lainnya amat sering tersiar berita melalui media bahwa semakin banyak tokoh-tokohnya melakukan penyimpangan moral yang tanpa disadari akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter generasi muda.
            Melihat kepada fenomena yang berkembang seperti itu sebuah kesimpulan kita adalah,  melemahnya karakter generasi muda seperti yang dikhawatirkan banyak kalangan bukan karena tidak adanya mata pelajaran bermuatan karakter  di sekolah formal  tetapi karena karakter pengelola  lembaga pendidikan itu sendiri termasuk lembaga negara dan lembaga masyarakat lainnya yang mengalami degradasi karakter, sehingga berdampak kepada karakter generasi muda.
            Oleh karena itu tidak perlu adanya pembuatan mata pelajaran dan pembentukan lembaga baru untuk mengurus pendidikan berkarakter, semua itu hanya akan menciptakan proyek dan menghabiskan anggaran secara sia-sia, tanpa hasil. Yang penting dilakukan adalah pembenahan dan pembetulan  kinerja lembaga pendidikan yang ada.  
             Jadikanlah lembaga pendidikan itu berkarakter duluan, karena tidak mungkin terwujud pendidikan berkarakter di tengah lembaga pendidikan yang amburadul  karakter
            Kata “founding father”  negara kita, Mohammad Hatta, “ Sesungguhnya manusia memang jauh dari karakter yang sempurna karena itu dia harus bekerja keras setiap waktu membetulkan kesalahan dan menyempurnakan karakternya” Ayo sama-sama memperbaiki karakter!***

Minggu, 11 Desember 2011

LAH SABULAN RUNTUAH ALUN JUO ELOK, PU LAMBEK BANA KARAJO





Kasra  media,
                Jalan Palembayan-Bukittinggi nan runtuah di Tanah Taban nagari Baringin sabulan nan lalu sampai kini alun juo elok. Oto lai dapek lalu tapi payah dek badan jalan lanyah.
                Kecek sopir bus banamo Edi Sabtu(10/12) kapatang, kalau hari paneh oto lai lalu ka sinan tapi kalau hujan tapaso baputa ka simpang patai palupuah kok indak ka lubuak basung. Kok ongkoih iyo ditambah dek parjalanan jauah.
                Jalan nan runtuh tu lah 2 kali dicaliak bupati Agam Indra Catri. Tigo hari sasudah runtuah baliau ka sinan, tu bajanji ka masyarakat bahaso saminggu jalan tu elok, tapi nyatonyo janji tingga janji, sampai kini alun juo elok lai, masyarakat lah tarangah manangguangkan.
                Wali nagari Ampek Koto Palimbayan Rony Akmal mengatokan, PU supayo bakarajo kareh mampaeloki jalan supayo capek salasai. Salamoko menuruik kecek-kecek masyarakat urang PU tu baele-ele mangarjokan jalan, cah karajo cah baranti.
                Tapi kecek ur4ang Pu pulo, hari acok hujan sahinggo payah mangarajokan jalan tu apo lai tanahnyo gaca(km)

Sabtu, 10 Desember 2011

SIKAP KITA TERHADAP BENCANA



SIKAP KITA TERHADAP BENCANA
Oleh:Kasra Scorpi
                Sebuah rumah yang terletak di pinggiran jalan ludes terbakar diamuk si jago merah, pemiliknya kehilangan tempat tinggal, hingga harus mengungsi ke rumah tetangga, harta benda mereka ludes terbakar.
                 Masyarakat sekitar ikut berduka, prihtain,menunjukkan kepedulian dengan memberikan sumbangan bahan makanan,  pemuda mengumpulkan dana di jalan raya dengan meminta sumbangan kepada para pengendara yang lewat, juga kepada perantau dan kepada donatur lainnya, para pejabat mengunjungi lokasi sembari membawa bantuan, sejumlah janji, menyampaikan turut berduka  dan  prihatin.
                Dengan dana sumbangan dari berbagai pihak tak lama kemudian rumah warga korban kebakaran itu dibangun kembali, bahkan kadang bangunan rumahnya lebih bagus dari bangunan yang terbakar.
                Di sini kita berlaku sebagai  masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi antar sesama, saling bantu membantu dalam suasana susah dan senang, “ sasakik sasanang, kaba buruak baambauan kaba baiak baimbauan”,kata pepatah orang Minangkabau.
                Tetapi ketika longsoran tebing  menimpa badan jalan yang membuat transportasi macet, masyarakat bergerombol menyaksikannya, orang-orang muda pada sibuk mencari kardus mi instan dan beberapa buah cangkul. Pekerjaan menggusur material longsoran dilakukan sekedar untuk melewatkan kendaraan,  setelah itu yang lebih penting meminta  sumbangan kepada pengendara yang lewat.
                Untuk meraih pendapatan  lebih besar  pekerjaan itu tidak pernah mereka selesaikan, mereka meniginkan kondisi rusak itu berlangsung lama, padahal kalau dikerjakan secara benar dalam waktu sebentar material longsoran akan tergusur . Inilah yang disebut,”mencari kesempatan dalam kesempitan”.
                Tanggal 30 September 2009 Sumbar diguncang gempa hebat, banyak korban nyawa dan harta benda, Sumbar menangis waktu itu, namun apa yang terjadi, harga minyak, mie instan, tumbok ban kendaraan  dan sebagainya melonjak tajam dengan alasan barangnya sulit didapat. Disini, di tengah bencana masih berlaku hukum ekonomi, dimana ketika barang langka dan permintaan meningkat harga melajit. Hukum ekononim tidak peduli bencana dan kemanusiaan.
                Bantuan untuk gempa besar itu tak kalah besar, ratusan milliar mungkin juga mencapai angka triliunan, penyaluran dilakukan melalui lembaga pemerintah maupun swasta.
                Tetapi penyaluran tak terlepas dari berita-berita miring, di sana-sini terjadi pemotongan dengan berbagai dalih,lagi pula penyalurannya seperti diundur-undur, hingga 3 tahun bencana berlalu penyaluran bantuan itu belum  tuntas-tuntas jua.
                Tak sekedar memberikan bantuan material, masyarakat juga diajak  melakukan pendekatan spiritual,memanjatkan doa , zikir bersama di lapangan, dilengkapi tausiah  dengan mangajak meningkatkan keimanan dan peribadatan, agar Yang Maha Kuasa tidak lagi menurunkan bencana.
                Tetapi perangai ataupun tingkah laku tak banyak berubah, kemaksiatan, saling “terkam menerkam”, saling  mengembat milik bersama tak putus-putusnya. Pimpinan masih lain di mulut lain dihati.
Kita masih merupakan bangsa yang ambivalen menyikapi  bencana. Apakah sikap itu sama dengan kemunafikan sebagai  pemicu munculnya bencana baru?  Yang Maha Kuasa mengatakan bahwa bencana  akibata tingkah laku manusia di muka bumi***

Senin, 28 November 2011

Harapan seorang guru


SEORANG IBU GURU DAN SELEMBAR SERTIFIKAT
Oleh:Kasra Scorpi
            Saya punya teman seorang ibu guru yang sejak diangkat ditempatkan mengajar di daerah terpencil. Saya sering menemuinya dan saya banyak tahu tentang kehidupannya.
            Di tempat mengajar dia tinggal pada rumah dinas di belakang sekolah. Ukuran rumah dinas itu  kecil, hanya ada satu kamar tamu, kamar tidur dan dapur, halamannya juga tak seberapa luas.
            Sejak gadis sampai beranak dua dia masih tetap menghuni rumah dinas yang sempit bagi keluarganya yang kian bertambah. Perabot yang dipasang di kamar tamu amat sederhana,seperangkat kursi tamu plus tape recorde, tv, yang dihidupkan dengan lampu listrik mikro hidro yang spaningnya rendah.
            Namun ibu guru itu saya dengar tak pernah mengeluh, saya salut dengan loyalitas dan dedikasinya. Kata orang-orang di sekitar sekolah ibu guru itu bertugas ganda, selain mengajar , boleh dikatakan  saban hari dialah yang membuka kunci sekolah, dia pula yang menaikkan dan menurunkan bendera, dia  yang yang mengunci sekolah di kala sore. Kadang di tengah malam ketika terdengar bunyi “keluntang puntang” di atap sekolah akibat cengkrama sepasang kucing yang bermesraan,  dia yang keluar duluan  memeriksa kondisi sekolah. Pekerjaan itu telah ditekuninya selama 20 tahun lebih di tempat tugas yang jauh dari kampung halaman.
            Katanya, dia pernah mengusul pindah ke daerah yang lebih maju ke dekat perkotaan yang dekat dengan kampungnya, tapi usulannya selalu ditolak atasa dengan alasan guru kurang dank arena di situ  hanya ada 2 orang guru  PNS, lainnya guru honor. Menghadapi tolakan  atasan bu guru  itu bersabar dan bersabar, tak merengek-rengek dan melakukan upaya sogok menyogok seperti yang banyak dilakukan rekan guru lain.
            Padahal tujuannya minta pindah bukan karena tak betah di tempat terpencil, bukan untuk menikmati kehidupan yang serba glamour tetapi untuk meningkatkan kualitas diri, ingin melanjutkan sekolah, ingin jadi sarjana agar dapat disertifikasi dan memperolah gaji tambahan sebanyak gaji pokok.
            “Kalau terus di daerah terpencil awak sulit menambah pengetahuan dan memperoleh informasi, bayangkan tv saja hidupnya susah, koran tidak ada, bacaan hanya buku-buku sekolah dan surat-surat yang masuk, mau kuliah susah, kemana, perguruan tinggi tempatnya sangat jauh, kuliah jarak jauhpun sulit, informasi amat terbatas” tutur ibu guru itu.
            Tapi untung juga, walaupun tak sempat jadi sarjana akhir-akhir ini ibu guru itu terpanggil juga sebagai peserta sertifikasi karena masa kerja dan usia sudah memenuhi syarat. Tentu saja dia harus mengikuti penataran atau MD selama 10 hari untuk belajar mengenai seluk beluk kependidikan terkini di sebuah perguruan tinggi.
            Selama mengikuti MD ya agak kaget juga sang ibu guru dari daerah terpencil melihat gaya- kawan-kawan guru dari daerah perkotaan yang pakai lap top segala dan getol berbicara tentang face book, twitter, akun, email, blog, situs, website dan seabrek istilah teknologi informasi modern.
             Bapak ibu dosen yang memaparkan materi juga gak pakai kapur atau spidol lagi seperti mengajar anak-anak di daerah terpencil, tapi pakai layar monitor. Bapak ibu dosen mamaparkan sejumlah teori dan bentuk pengajaran modern secara maraton, yang dipaparkan tentu saja tidak  cara-cara mengajar kuno seperti mengajar menggunakan lidi dalam pelajaran berhitung atau matematika.
            Menyerap bahan pelajaran baru dalam kondisi singkat seperti itu bagi ibu guru dari daerah terpencil amat sulit, memori otak rasanya tak mampu lagi, apalagi materi yang diajarkan mekanan orang sarjana atau yang pernah menikmati bangku kuliah. “Awak yang hanya tamat SPG ini tak menangkap apalagi awak tidak pernah mengikuti kuliah, MGMP, penataran-penataran atau seminar-seminar seperti rekan-rekan di perkotaan, kerja awak hanya mengajar saja, kalau mengajar awak memang boleh dikatakan tak pernah absen, murid-murid awak juga banyak yang tamat dengan angka bagus, kini sudah banyak yang jadi sarjana, walaupun dia diajar secara manual menggunkan lidi dan kapur tulis” tutur ibu guru itu.
            Kemudian,nyatanya memang ibu guru itu tidak lulus ujian sertifikasi, karena dalam ujian ini tidak berlaku dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaan, di sini yang berlaku penguasaan teori-teori dan penguasaan teknologi pendidikan modern.
            Rajin benarlah awak mengajar, taat betullah awak terhadap kepala sekolah, tinggi betullah nilai murid dalam bidang studi yang awak ajar tidak menjamin bakal lulus ujian sertifikasi.
Juga produk sertifikasi sejak tiga tahun terakhir belum mampu meningkatkan kulaitas pendidikan. Setifikasi masih sama  dengan pemberian tunjangan besar terhadap guru, belum mampu memberikan sebuah kualitas terhadap peserta didik.Selamat hari guru!***

Selasa, 18 Oktober 2011

DINAS KELAUTAN AGAM DAPAT TAMBAHAN ANGGARAN


Agam,KM
Berdasarkan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2011 Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam mendapatkan bantuan 500 juta
Bamntuan diberikan dalam bentuk satu paket peralatan rumah skala kecil dan satu paket pembuat pelet. Alat tersebut berguna untuk pakejing berbagai macam produk perikanan olahan Agam.
Menurut Sekretaris Dinas Kelautan dan perikanan Agam Ermanto, dengan bantuan tersebut diharapkan masyarakat dapat mengembangkankreasinya untuk membuat berbagai jenis makanan dari ikan.
“Saat ini masyarakat Agam banyak menghasilkan ikan tetapi penjualannya masih secara langsung, padahal kalau dilakukan pengolahan dan dipaket secara baik akan menimbulkan nilai tambah dengan arti harga jualnya meningkat, karena itu bantuan teknologi bagi petani ikan amat diperlukan dan kita berterima kasih bantuan pusat tersebut” kata Ermanto