Unik

Senin, 28 November 2011

Harapan seorang guru


SEORANG IBU GURU DAN SELEMBAR SERTIFIKAT
Oleh:Kasra Scorpi
            Saya punya teman seorang ibu guru yang sejak diangkat ditempatkan mengajar di daerah terpencil. Saya sering menemuinya dan saya banyak tahu tentang kehidupannya.
            Di tempat mengajar dia tinggal pada rumah dinas di belakang sekolah. Ukuran rumah dinas itu  kecil, hanya ada satu kamar tamu, kamar tidur dan dapur, halamannya juga tak seberapa luas.
            Sejak gadis sampai beranak dua dia masih tetap menghuni rumah dinas yang sempit bagi keluarganya yang kian bertambah. Perabot yang dipasang di kamar tamu amat sederhana,seperangkat kursi tamu plus tape recorde, tv, yang dihidupkan dengan lampu listrik mikro hidro yang spaningnya rendah.
            Namun ibu guru itu saya dengar tak pernah mengeluh, saya salut dengan loyalitas dan dedikasinya. Kata orang-orang di sekitar sekolah ibu guru itu bertugas ganda, selain mengajar , boleh dikatakan  saban hari dialah yang membuka kunci sekolah, dia pula yang menaikkan dan menurunkan bendera, dia  yang yang mengunci sekolah di kala sore. Kadang di tengah malam ketika terdengar bunyi “keluntang puntang” di atap sekolah akibat cengkrama sepasang kucing yang bermesraan,  dia yang keluar duluan  memeriksa kondisi sekolah. Pekerjaan itu telah ditekuninya selama 20 tahun lebih di tempat tugas yang jauh dari kampung halaman.
            Katanya, dia pernah mengusul pindah ke daerah yang lebih maju ke dekat perkotaan yang dekat dengan kampungnya, tapi usulannya selalu ditolak atasa dengan alasan guru kurang dank arena di situ  hanya ada 2 orang guru  PNS, lainnya guru honor. Menghadapi tolakan  atasan bu guru  itu bersabar dan bersabar, tak merengek-rengek dan melakukan upaya sogok menyogok seperti yang banyak dilakukan rekan guru lain.
            Padahal tujuannya minta pindah bukan karena tak betah di tempat terpencil, bukan untuk menikmati kehidupan yang serba glamour tetapi untuk meningkatkan kualitas diri, ingin melanjutkan sekolah, ingin jadi sarjana agar dapat disertifikasi dan memperolah gaji tambahan sebanyak gaji pokok.
            “Kalau terus di daerah terpencil awak sulit menambah pengetahuan dan memperoleh informasi, bayangkan tv saja hidupnya susah, koran tidak ada, bacaan hanya buku-buku sekolah dan surat-surat yang masuk, mau kuliah susah, kemana, perguruan tinggi tempatnya sangat jauh, kuliah jarak jauhpun sulit, informasi amat terbatas” tutur ibu guru itu.
            Tapi untung juga, walaupun tak sempat jadi sarjana akhir-akhir ini ibu guru itu terpanggil juga sebagai peserta sertifikasi karena masa kerja dan usia sudah memenuhi syarat. Tentu saja dia harus mengikuti penataran atau MD selama 10 hari untuk belajar mengenai seluk beluk kependidikan terkini di sebuah perguruan tinggi.
            Selama mengikuti MD ya agak kaget juga sang ibu guru dari daerah terpencil melihat gaya- kawan-kawan guru dari daerah perkotaan yang pakai lap top segala dan getol berbicara tentang face book, twitter, akun, email, blog, situs, website dan seabrek istilah teknologi informasi modern.
             Bapak ibu dosen yang memaparkan materi juga gak pakai kapur atau spidol lagi seperti mengajar anak-anak di daerah terpencil, tapi pakai layar monitor. Bapak ibu dosen mamaparkan sejumlah teori dan bentuk pengajaran modern secara maraton, yang dipaparkan tentu saja tidak  cara-cara mengajar kuno seperti mengajar menggunakan lidi dalam pelajaran berhitung atau matematika.
            Menyerap bahan pelajaran baru dalam kondisi singkat seperti itu bagi ibu guru dari daerah terpencil amat sulit, memori otak rasanya tak mampu lagi, apalagi materi yang diajarkan mekanan orang sarjana atau yang pernah menikmati bangku kuliah. “Awak yang hanya tamat SPG ini tak menangkap apalagi awak tidak pernah mengikuti kuliah, MGMP, penataran-penataran atau seminar-seminar seperti rekan-rekan di perkotaan, kerja awak hanya mengajar saja, kalau mengajar awak memang boleh dikatakan tak pernah absen, murid-murid awak juga banyak yang tamat dengan angka bagus, kini sudah banyak yang jadi sarjana, walaupun dia diajar secara manual menggunkan lidi dan kapur tulis” tutur ibu guru itu.
            Kemudian,nyatanya memang ibu guru itu tidak lulus ujian sertifikasi, karena dalam ujian ini tidak berlaku dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaan, di sini yang berlaku penguasaan teori-teori dan penguasaan teknologi pendidikan modern.
            Rajin benarlah awak mengajar, taat betullah awak terhadap kepala sekolah, tinggi betullah nilai murid dalam bidang studi yang awak ajar tidak menjamin bakal lulus ujian sertifikasi.
Juga produk sertifikasi sejak tiga tahun terakhir belum mampu meningkatkan kulaitas pendidikan. Setifikasi masih sama  dengan pemberian tunjangan besar terhadap guru, belum mampu memberikan sebuah kualitas terhadap peserta didik.Selamat hari guru!***